Indahnya Pulau Sakerah (1 of 3)
Melengkapi review Pak Rudy terdahulu, berikut ini saya sampaikan catatan perjalanan (yang ujubune panjangnya) tentang sekelumit perjalanan kami dalam perjalanan wisata ke Madura, 11-12 Maret 2005 yang ditajuki ‘Indahnya Pulau Sakerah’ .
Ini review duet antara Arry dan Yuyun yang saling melengkapi baik mengenai catatan perjalanan dan maupun review kuliner. Saya pecah menjadi beberapa bagian, agar tidak terlalu jenuh mengikutinya.
INDAHNYA PULAU SAKERAH - Hari Pertama, Jumat 11 Maret 2005
2 hari perjalanan explorasi kemolekkan Pulau Madura, Indahnya kebersamaan JSers Surabaya.
(*Sakerah: pahlawan legendaris asal Madura)
Jam 06.15 pagi, Arry terpaksa harus kembali ke Mutiara travel untuk memandu pengemudi ELF menemukan lokasi berkumpul JSers di depan McD JMP. Pengalaman pertama memberi servis transportasi terbaik kepada JSers Surabaya bukanlah sebuah beban yang ringan. Berpacu dengan emosi, waktu dan debar jantung akhirnya Arry berhasil berada di dalam ELF 45 menit lebih lambat dari jadwal.
Jam 07.10. There they were!! Debar jantung Arry mereda melihat mereka dengan santai melewatkan 60 menit keterlambatan dengan menyantap sajian semanggi kukus disiram sambel kacang dicampur ketela rambat bertoping kerupuk beras dari ibu-ibu penjual Semanggi gendongan. Selepas hidangan pembuka sarapan pagi itu kami bergegas memasukkan barang bawaan, aneka jajanan dan bekal makan siang ke dalam kendaraan tanpa lupa mengabadikan diri dalam jepretan kamera Pak Rudy. Then the story goes on.. Here we come my dear Sakerah Island.
Akhirnya Feri pun beranjak meninggalkan Pulau Jawa jam 07.45. Sepanjang perjalanan dari JMP ke pelabuhan Ujung tadi bekal bakcang ayam –potongan daging ayam, kuning telor asin, jamur, dan kacang chesnut berbumbu kecap dan saus ngohyang dalam ketan berbalut daun kelapa yang direbus selama sekitar 5 jam-an– buatan Bu Erni habis kami lahap, kenyang. Perjalanan 35 menit menyebrangi selat Madura tidak terasa terlewat sambil menikmati Patung Jalasveva Jayamahe yang berdiri gagah di ujung Surabaya perlahan-lahan mengecil berganti pemandangan kampung-kampung nelayan dengan masjid dan hilir mudik kapal yang makin lama kian jelas saat feri terus merapat.
Nasi Petis di Warung Amboina
Jam 08.35. Kami sampai di tujuan pertama, Warung Amboina. Warung kecil bercat hijau terletak tepat di depan alun-alun Bangkalan di samping masjid Jamik. Modelnya seperti warung jaman dulu dengan meja yang dirapatkan ke sisi kiri dan kanan ruangan. Seolah lupa akan udang goreng balut kulit lumpia buatan mbak Yuyun dicocolkan pada saus mayonais dan sambal tomat botolan yang dinikmati sepanjang perjalanan Kamal-Bangkalan tadi, kami langsung menyeruak masuk warung yang padat dengan segera karena warung ini menggunakan sistem "siapa yang cepat maka dialah yang dapat kursi". Makannya pun harus bergegas karena tamu lain sudah menanti di luar.
Menu yang dijual antara lain: nasi petis, soto dan rawon. Karena penasaran sebagian besar memesan nasi petis yang ternyata nasi campur ala Madura. Hanya Pak Rudy yang memesan soto yang ternyata berisi babat, aneka jerohan dan telor rebus ditaburi bawang goreng dan seledri cincang bergarnis potongan jeruk nipis dan sambal.
Tidak seperti namanya nasi petis, saat menemukan jenis nasi ini ternyata tidak mengandung petis sama sekali. Seperti nasi campur mungkin, nasi petis berisikan lauk daging sapi goreng, hati dan potongan jerohan kecil sayur lodeh nangka muda dan potongan tahu . Yang membuat dasyat nasi petis adalah sambalnya yang hot dan asin. Dengan mencampur sambal sedikit rasa pedas langsung menyeruak membangkitkan selera.
Nasinya sendiri cenderung keras (tidak lembut,kurang air) dan hati-hati harus banyak minum karena nasi ini sangat minus kuah. Suasana warung: warung terletak di pinggir jalan, sederhana dengan bangku-bangku kayu model lama . Pembeli antri dan harus pandai-pandai mennguasai tempat duduk begitu mendapatkan kursi kosong. Jangan sampai lengah karena pembeli berikutnya segera mengincar tempat duduk yang kosong.
- Herru Suwandi -
— bersambung —