Indahnya Pulau Sakerah (2 of 3)
Air Terjun Toroan
Jam 09.17 kami melanjutkan perjalanan yang sangat menyenangkan antara Warung Amboina dan tujuan kami selanjutnya. Kami menyusuri jalur pantai utara pulau Madura via Arosbaya, Tanjung Bumi dan Ketapang. Sepanjang perjalanan, aneka makanan "kecil" tak henti mengalir mulai udang goreng kulit lumpia tadi, samosa buatan Astri yang berisi cincangan daging ayam dengan irisan lombok hijau dan bumbu gulai yang begitu kuat, pastel, kue lapis dan bekal makanan kami lainnya.
Kemolekkan pulau madura mulai terasa kenikmatannya. Pantai yang biru bergradasi dengan warna hijau beberapa kali kami lintasi. Hijau bibit palawija yang mulai tumbuh di atas tanah berwarna kemerahan. Kami juag disuguhi "hidangan" macet di beberapa pasar. Usut punya usut penyebabnya adalah dua supir kendaran umum yang sedang ngobrol dari mobil masing-masing di tengah jalan. Ya di tengah jalan!! Tapi untungnya kami jadi punya kesempatan untuk mengamati dan membahas aneka macam ikan laut, cumi dan bekotak yang dijual ibu-ibu di pinggir pasar.
Jam 11.10 kami tiba di Air terjun Toroan. Terletak di pinggir pantai, merupakan Songai Tambing yang bermuara di Laut Jawa. Secara administratif masuk dalam wilayah Desa Bire Berek, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang. Masih alami karena bukan merupakan obyek wisata yang terkelola.
Untuk sampai ke air terjun ini kita harus melewati jalan setapak yang menurun sekitar 50m sampai ke garis pantai kemudian berjalan lagi sekitar 200m melalui hamparan pasir halus dan sudah dibentuk bola-bola mini oleh mahluk laut sejenis kepiting kecil yang langsung masuk ke sarangnya saat kita menapakkan kaki dan batuan karang yang tersusun acak.
Sungguh molek memang tanah Sakerah ini. Paduan pasir yang kecoklatan, air laut yang biru, hempasan ombak dan deru air sungai yang jatuh dari batuan setinggi 5m. Terlalu manis untuk dilewatkan begitu saja.
Pantai Slopeng
Setelah meninggalkan kawasan Toroan, break sholat jumat masih di Desa Bire Berek dan perjalanan selama satu jam melewati lukisan alam pantai yang menawan dan suguhan pasar yang macet gara-gara supir-supir yang sedang arisan, akhirnya kami tiba di tujuan selanjutnya: Pantai Salopeng.
Bekal pun dibuka. Nasi ayam-empal dan sambel pete depot langgeng, udang goreng Bu Rudy. Ayamnya kampung, empuk dan sedap, sambel petenya juga tidak kalah gurih pedas cuman petenya terlalu empuk jadi sensasi bau petai di mulutnya kurang greng. Ditutup dengan buah jeruk dan es kelapa muda yang ketuaan, jadi mirip dengan karakteristik orang Madura: Atos a.k.a Alot a.k.a Keras banget.
Angin terus menderu kencang bak blower alami yang disetel penuh. Pinginnya dikecilkan karena kami kesusahan makan di tengah hempasan angin laut yang kuat. Pantai Salopeng sendiri (sebagian orang menyebut Slopeng) memiliki keunikan yaitu gunung pasir halus di sepanjang pantai. Rupanya timbunan pasir alami ini sering diambil secara ilegal oleh masyarakat setempat hingga Pemkab Sumenep harus memasang papan peringatan untuk tidak mengeruk pasir secara sembarangan. Tapi tetap saja, kalau dibiarkan lama kelamaan akan habis.
Perjalanan seusai makan siang menuju pantai Lombang tidak semulus perjalanan di pagi hari tadi. Kami harus melewati jalan kecamatan bahkan jalan desa yang masih terjal ala offroad dan bertanya beberapa kali kepada penduduk desa setempat. Interpreter was highly required untuk menanyakan jalan pada penduduk yang awam pada Bahasa Indonesia.
Ada beberapa jalan yang harusnya ada di peta hilang entah di mana membuat bingung. Akhirnya jajaran pohon cemara udang menuju pantai Lombang yang terkenal dengan hamparan pasirnya yang halus pun sudah terbentang di depan mata.
Benar-benar sisi lain kecantikan pulau Madura. Pantainya tak kalah dengan Kuta (cuman kurang pengelolaan saja). Arry hampir saja dijeburkan ke pantai namun gagal karena berat badan Arry tidak mampu ditanggung oleh JSers Herru, Sonny, Anwar dan Jimmy. Saved by the weight!! Untung Arry tidak kurus.
Kami melewatkan lebih dari satu setengah jam di pantai ini sekedar untuk berpose ala model dengan gaya serius, santai, putri duyung sampai gaya cangkir (berkacak pinggang mirip cangkir teh) dan makan rujak petis madura dan es degan langsung dari buah kelapanya yang usianya jauh lebih muda dengan daging buah lebih lembut di mulut dibanding dengan yang kami nikmati di Salopeng tadi.
- Herru Suwandi -
— bersambung —