Indahnya Pulau Sakerah (3 of 3)
Sate Laler
Sepulang dari Pantai Lombang kami kembali ke penginapan di Hotel Utami Sumekar Jl. Trunojoyo, Sumenep dan setelah membersihkan diri dan istirahat sejenak, kami melewatkan malam dengan berjalan kaki ke pusat jajanan di samping Hotel Wijaya dan makan sate laler.
Disebut begitu karena potongan daging ayamnya yang kecil2 sebesar lalat. Satu porsi berisikan 30 tusuk. Saat dihidangkan diatas piring hamper mirip ‘tumpukan tusuk sate’. Rasa bumbu sedap dan gurih, kandungan kacang sangat dominan sekali. Jika dibandingkan dengan sate di Surabaya bumbu kacangnya agak kasar (coarse size).
Tekstur sate cenderung agak keras karena bentuknya kecil jadi agak garing. Sate laler dipadukan dengan potongan lontong atau nasi.
Sayang mungkin penjualnya tidak mengantisipasi kedatangan JSers yang doyan makan, hingga dia baru mengambil stok lontongnya dari lemari pendingin tanpa dihangatkan dulu. Mirip dengan es lontong jadinya.
Dalam perjalanan kembali ke hotel JSers Jimmy dan Sonny mampir membeli martabak sebagai teman ngobrol sebelum tidur nanti.
Hari kedua, Sabtu, 12 Maret 2005
Asta Tenggih
Setelah makan pagi nasi goreng dari hotel, kami meluncur menuju Asta Tenggih, makam raja-raja dan bangsawan Keraton Sumenep. Konon menurut juru kunci, di kompleks makam itu ada petilasan P. Diponegoro yang juga menantu dari salah seorang raja Sumenep.
Setelah puas berkeliling dan mengambil gambar di kawasan ini, kami melanjutkan kunjungan ke kawasan pasar di belakang Masjid Agung Sumenep. Menurut informasi dari karyawan hotel, di daerah itu dijual produk unggulan kabupaten Sumenep. Kami pun memborong beberapa panci yang anti lengket (teflon tradisional) yang cuman ada di Sumenep.
Juga tidak lupa mencoba makanan Ketopak Orap –sayur alur kukus dibumbui kelapa parut kukus berwarna merah cabai dengan rasa dominan asin bertabur ikan teri asin goreng– enak sebagai brunch dan tidak begitu mengenayangkan. Sebungkus hanya seribu saja.
Kaldu Kokot di Sumenep
Setelah puas memborong panci, perut pun terasa lapar lagi. Kisah kenikmatan makan kaldu kokot menggoda iman sementara pengetahuan mengenai kota Sumenep dan tempat-tempat yang enak untuk makan kaldu kokot sangat terbatas.
Menurut warga di sekitar masjid Jamik, warung kaldu kokot yang enak ada di Desa Damala tapi jam segitu pasti sudah tutup. Kami kemudian hendak mencoba yang di desa Parsanga.
Tanya sana- sini akhirnya kami meluncur menuju Desa parsanga. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan seseorang yang tidak kami kenal bernama Pak Husein. Beliau rela menukar sepeda motornya yang ada di rumah kemudian mengantar kami sampai ke warung Kaldu dan Soto yang katanya enak bukan di Parsanga tapi di di Jl. Dr. Wahidin III/353 belakang museum.
Lokasinya masuk ke dalam sebuah gang kecil. Katanya warung kecil dan bersih milik Ibu Adnan ini sempat dimuat di majalah ibukota dan punya cabang di kota Batu. Hidangan yang disajikan memiliki cita rasa yang khas dan nikmat. Kaldunya kental karena diberi sumsum tulang, dihidangkan dengan kacang hijau rebus. Bumbunya sederhana saja, bawang putih, merica, garam dan gula. Ditaburi bawang goreng, kacang hijau rebus dan siraman bumbu kacang tanah goreng yang diuleg kasar dengan campuran petis ikan. Makannya harus dengan lontong dan korket sabreng –kroket goreng dari sabreng (singkong) dan daun bawang– bisa juga dengan cengek (sambal).
Selain kaldu hidangan yang tak kalah enak adalah soto kikil. Tetap berbahan dasar kaldu beserta kaki kambingnya, soto kikil dihidangkan tanpa kacang hijau rebus. Hidangan ini juga mengunakan kacang hijau tetapi digoreng dan ditaburkan di atasnya.
Sebagai tambahan informasi, Pak Husein tadi menyempatkan diri kembali ke waruing dan mengingatkan kami untuk tidak lupa mencoba kue Apen yang dijual di Desa Parsanga. Alangkah ramahnya..Siapa bilang orang Madura kurang bersahabat? Ternyata Sakerah juga ramah dan baik hati loh.
Setelah perut kenyang kami menuju lokasi selanjutnya yaitu Keraton Sumenep dan museumnya. Satu jam kami terkesima dengan pesona keraton yang masih terawat dan pernah dihuni oleh raja-raja Sumenep. Kami sempat mengunjungi Pasepen yaitu rumah yang dulunya pernah dibuat menyepi oleh salah seorang Raja Sumenep Bindereh Saod yang konon sudah bisa menjawab (nyaot-menyahut, saod-sahut) salam sejak beliau burumur enam bulan di dalam kandungan. Kami juga sempat melongok kamar yang dipakai raja dan permaisurinya.
Keraton Sumenep adalah satu-satunya keraton yang masih terpelihara di Jawa Timur. Singgahsana raja kini menjelma menjadi Paseban tempat dilantiknya bupati-bupati Sumenep. Di samping Paseban terdapat Taman Sare, tempat putri-putri berkumpul. Menurut legenda masyarakat barang siapa mencuci muka dengan air yang terdapat pada kolam mandi di Taman Sare ini, niscaya akan awet muda. Sayang air kolamnya kotor dan berlumut. Awet muda tapi jerawatan ˜kan gak lucu.
Jam 12.30 kami kembali ke hotel untuk berkemas. Rencananya setengah jam lagi kami sudah harus meninggalkan hotel untuk melanjutkan eksplorasi kami.
Selepas meninggalkan Hotel kami mencoba mencari toko yang menjual kaos ‘Alapola-Madura’ di Jl. Kartini. Kaos Alapola ini semacam Joger atau Dagadunya Madura. Sayang stoknya habis dan saran mbak penjaga tokonya lebih baik membeli di toko yang Surabaya saja. Ya jauh-jauh disuruh balik ke Serbejeh, de’remmah ini..
Kue Apen
Kami melanjutkan perjalanan menuju desa Parsanga. Informasi yang kami terima simpang siur, ada yang bilang siang sudah habis tapi ada juga yang mengatakan bahwa msih ada.
Namun setelah perjuangan keras kami berhasil menikati kue Apen, panekuk tradisional dengan saus gula merah yang dimasak bersama santan cair dan santan kental. Kue Apen dipanggang tanpa minyak pada wajan kecil dari tanah liat di atas kompor dengan api dari kayu bakar.
Ada 2 jenis Kue Apen yaitu yang berwarna putih (karena adonan tepung beras yang digunakan tanpa telur) dan warna kuning (yang menggunakan telur ayam kampung). Satu porsi kue ini berisi lima lembar kue apen seharga Rp. 2000.
Perburuan mencari kue Apen membuat kami kelelahan hingga hampir semuanya ketiduran dan melewatkan pemandangan indah sepanjang perjalanan keluar kota Sumenep menuju Pamekasan. Bahkan kami juga melewatkan acara belanja batik di Soraya batik. Kecapekan apa kekenyangan ya?
Langsung saja diputuskan untuk menuju Toko Cemilan dan oleh-oleh Nyaman di jl. Niaga 14 Pamekasan. Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya bahwa toko Nyaman ini letaknya tidak mudah diketahui, untuk mencapainya kita harus melalui jalan kecil di samping rumah, tokonya juga kecil tapi menyediakan aneka jajanan kering dan oleh-oleh khas Madura yang lengkap seperti aneka olahan seafood .dan bahan makanan dari singkong atau kacang, seperti kacang campur lorjuk, lorjuk goreng, teri nasi, kacang tanah goreng, kerupuk singkong ala madura yang segede tampa, kerupuk ikan, kerupuk teki, dendeng cumi, ikan asin, dll.
Rujak Madura
Tidur pulas sepanjang perjalanan menuju Pamekasan dari Sumenep ditambah acara belanja oleh-oleh kembali membuat kami lapar. Rujak madura di Jalan Trunojoyo Pamekasan dekat Hotel Putri adalah sasaran selanjutnya.
Sekilas rujak ala madura ini mirip dengan rujak yang ada di Surabaya. Perbedaannya pada jenis petis yang digunakan, yaitu petis ‘jukok’ alias petis ikan. Ulegan kacangnya juga lebih kasar mirip bumbu pecel. Rujak berisi potongan tahu, tempe, cingur, kangkung dan tauge rebus, ketimun dengan topping remesan kerupuk singkong ditaburi bumbu dan kacang hijau goreng yang dibuang kulitnya. Dihidangkan bersama kerupuk udang dan petis yang ditoletkan begitu saja di sisi samping piringnya dengan garnis cabe rawit merah kecil.
Selain Rujak, warung ini juga menyediakan soto Pamekasan yang mirip dengan soto di Sumenep hanya saja menggunakan santan dengan aroma pala yang kuat. Rasanya lebih mirip sop daripada soto. Bahan utamanya adalah jerohan sapi.
Api Abadi
Tujuan terakhir kami adalah Api Abadi yang terletak di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Sampang. Api Abadi ini muncul karena kandungan gas bumi yang tinggi sehingga api terus menerus menyala bahkan digunakan untuk masak-memasak.
Dalam liputan jalan-jalan di sebuah stasiun televisi disebutkan bahwa masyarakat sekitar daerah ini tidak menggunakan kayu atau kompor untuk memasak. Mereka cukup memasukkan selang ke dalam perut bumi kemudian mengarahkannya ke tungku dan jadilah kompor gas gratis selama-lamanya.
Perjalanan indah nan menyenangkan ini pun harus berakhir ketika feri membawa kami meninggalkan pulau Sakerah, Madura yang indah untuk kembali pulang ke Surabaya. Ada banyak tempat-tempat indah di Sakerah Island ini, masyarakatnya pun ramah.
Lebih dari itu kenangan sepanjang perjalanan juga sesuatu yang tidak kalah indah. Sepuluh orang dengan latar belakang pendidikan, pekerjaan, usia dan kegemaran yang beragam bersatu menjalin kebersamaan. Indahnya madura.. Indahnya kebersamaan JSers Surabaya.
Penutup:
Ini adalah hajat rongkah pertama yang kita lakukan dengan persiapan yang sesingkat-singkatnya. Lumayan ketar-ketir bo. Terutama cuaca, karena dalam minggu-minggu terakhir ini, Surabaya diguyur hujan sebanjir-banjirnya.
Pun demikian, kami sejak awal yakin sekali bahwa ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan no matter what. Karena apa? Karena kami adalah member jalansutra. Apapun yang terjadi, pasti gembira dan sukacita. Dan demikianlah adanya, apalagi Tuhan memberkati dengan memberi cuaca yang bersahabat sejak keberangkatan hingga kembali.
Hal besar yang kami rasakan selain review di atas adalah kekayaan hati karena guyonan, ketawa dan keakraban yang kami rasakan. Tulisan di atas tidak akan pernah mampu menggambarkan ‘perjalanan batin’ yang kami alami. Apalagi kami tahu pasti, bahwa semua dilakukan dengan cinta. kami tahu, hampir semuanya sibuk berkutat dengan pekerjaan. Tapi Ibu Erni rela survey, dan teman-teman bersedia meeting koordinasi dalam sekapan kemacetan dan hujan, telpon sana-sini untuk mengurus tektek bengek yang berkaitan dengan suksesnya acara ini.
Terima kasih buat semua, untuk sebuah perjalanan yang penuh cinta.
Salam,
Arry, Yuyun dan Herru