Madura: bukan lagi “dekat tapi jauh…..”
Hari libur 12-13 Maret 2005 lalu kami, Jser Surabaya, akhirnya berhasil mengadakan "JJBM - Jalan Jalan Bareng ke Madura". Pulau Madura, yang hanya setengah jam perjalanan dengan ferry dari Surabaya, bagi kebanyakan orang memang "dekat tapi jauh". Sudah banyak orang Surabaya yang melanglang buana ke mancanegara, tapi yang ke Madura? Amat jarang, kecuali Anda memang orang Madura. Inilah salah satu alasan mengapa kami bertekad mengadakan JJBM.
Sebenarnya sudah lama sekali gagasan ke Madura ini timbul tenggelam. Hanya setelah kami di-ekspos di Jawa Pos akhirnya ada ada anggota baru yang "made in Madura", Arry "Mad Max" Adiwiyono, yang menjadi pemicu terlaksananya JJBM ini.
Jumat jam 6 pagi, kami sudah berkumpul di parkiran JMP (Jembatan Merah Plaza), tapi kendaraan datang terlambat. Dasar anggota JS, waktu tunggu malah dimanfaatkan untuk "nanggap" Semanggi Suroboyo! Makanan khas Surabaya yang sudah mulai langka ini dijual oleh seorang mbok tua yang tentunya tidak mengira mendapat serbuan gerombolan lapar sepagi itu!
Minibus akhirnya berangkat ke Madura. Selama perjalanan ke Bangkalan, kami bersepuluh tidak bisa "berdiam diri", langsung melahap bekal yang dibawa peserta jalan-jalan. Astri membawa roti canai dan samosa yang otentik rasa Timtengnya, Yuyun dengan udang unggulannya, dan untuk event khusus ini, keluarga Erni bersedia membuat bakcang ayam–benar-benar special edition!
Hentian pertama, Warung Amboina, di Bangkalan yang terkenal dengan menu khas "nasi petis". Biarlah peserta yang lain yang memberi kesan dan uraian tentang hidangan ini.
Setelah "proper breakfast" (yang tadi emangnya apaan, hehehe), kami melanjutkan perjalanan ke air terjun Toroan. Tidak ada pengunjung lain di lokasi ini. Air terjun kembar ini memang tidak se-spektakuler air terjun lainnya, tapi berhubung para peserta sudah terlalu lama kelebihan energi dalam kendaraan, kami manfaatkan lokasi ini untuk berfoto-ria hingga puas!
Kami berhenti sebentar untuk sholat Jumat di sebuah desa kecil di daerah Ketapang, sebelum melanjutkan perjalanan ke pantai Slopeng untuk makan siang. Di sebuah pendopo luas di tepi pantai, dengan semburan angin pantai yang kencang kami santap bekal makan siang yang pagi-pagi tadi sudah diambil dari Warung Langgeng. Menu ayam goreng dengan sambel goreng pete dan lalap ini lahap dengan "es degan" yang terbukti terlalu tua kelapanya!
Segmen perjalanan berikutnya, ke pantai Lombang, cukup panjang karena kami tidak mengambil jalur dari kota Sumenep. Tapi jarak yang jauh itu sungguh terlupakan ketika kami sampai di Pantai Lombang. Hutan cemara udang menghadang kami sebelum akhirnya sampai di garis pantai yang panjang dengan pasir putih yang sedemikian halusnya. Tidak ada acara khusus disini kecuali menyusuri pantai diiringi deburan ombak yang "jinak". Atas arahan "creative director" Jimmy Tanaya, kami membuat tulisan "JS" besar-besar di pasir pantai, lalu dijadikan sebagai latar depan untuk foto bersama!
Puas main-main di pantai, kami menuju kota Sumenep untuk check-in di hotel "Utami Sumekar". Malamnya, kami berjalan kaki ke daerah sekitar hotel untuk berburu "sate laler". Ini tentunya bukan sate lalat, tapi sate ayam yang potongan dagingnya kecil-kecil sekali sehingga kita bisa menggigit langsung 2-3 tusuk sate bersamaan biar puas.
Esoknya, kami sepakat untuk mengunjungi kompleks makam Asta Tenggi, yang ternyata fotogenik sekali. Lalu disambung ke Museum dan Kraton Sumenep yang ternyata satu-satunya kraton di Jatim yang masih utuh.
Stereotip tentang orang Madura yang "keras" sungguh tidak terbukti selama JJBM ini. Saat kami mencari lokasi penjual kaldu kokot, Arry bertanya ke sembarang orang di jalan. Eh, malah beliau menyempatkan diri pulang sebentar dan ganti kendaraan, hanya untuk mengantar kami sebagai
"voorrijder" ke lokasi yang agak masuk gang itu. Sudah begitu beliau balik lagi ketika kami sedang makan kaldu kokot, untuk menambahkan informasi tentang penjual kue apen.
Perjalanan ke pasar tradisonal tentu tidak dilewatkan oleh anggota JS. Erni segera menemukan penjual "topak orap" atau ketupat urap seperti yang diceritakan Jser Abdul Gaffar Karim (thanks Pak!), yang kami serbu rame-rame dalam perjalanan kembali ke bus. Tidak lupa kami coba jajanan lopis dengan joroh (saus gula merah) sebagai "dessert"-nya.
Setelah checkout dari hotel, kami menuju Pamekasan. Rencananya sih mau belanja batik di "Soraya", apa daya, karena semua anggota rombongan tertidur, maka lewatlah tujuan tersebut. Kami sempat menyerbu rujak cingur Pamekasan yang ternyata beda sekali komposisi bumbunya dengan yang biasa kami dapat di Surabaya. Dalam perjalanan pulang balik ke Surabaya, kami sempatkan untuk singgah sejenak di "Api Abadi", tempat wisata yang mengandalkan rembesan gas alam sehingga api dipelatarannya "abadi".
Walaupun masih ada ketidak-sempurnaan di sana-sini (terlalu banyak berhenti di pantai (3x), tidak sempat "batiksutra", dan tidak sempat mencoba "soto sabreng", misalnya) ini adalah kopdar yang sungguh-sungguh mengesankan, bukan saja karena ini perjalanan "besar" anggota JS Surabaya yang pertama, tapi yang utama keakraban dan persaudaraannya itu lho!
Salam,
Rudy Sujanto - Surabaya
PS. Terima kasih pada Jser Erni, Lina, dan Frenda yang asli Sumenep, yang sudah menjadi advance party untuk melakukan survey seminggu sebelumnya. Jser dr.Astri yang melakukan "operasi kecil" terhadap kepala Jser Sonny yang "bocor". Juga untuk Jser Herru Suwandi yang dengan semangatnya menjadikan JS Surabaya mampu "punya proyek", and last but not least, Maxallarry Adiwijono guide/entertainer/interpreter kita dalam perjalanan ini.
October 28th, 2009 at 5:34 pm
salam kenal…. kapan-kapan kalau ada jalan-2 boleh dunk info ke sata, matur nuwun….